Menikmati Layanan Streaming Musik Gratis

Posted by


Layanan streaming musik seperti Deezer, Guvera, dan MixRadio hadir supaya masyarakat bisa mendengarkan musik berkualitas tinggi secara legal. Biayanya terjangkau, bahkan bisa gratis.
Industri musik sedang lesu. Para musisi harus menghadapi fakta bahwa angka penjualan album fisik (kaset dan CD) terus menurun tiap tahun. Sebagai alternatif, mereka mesti mencoba cara lain untuk bertahan hidup.
Distribusi musik melalui format digital adalah “juru selamat” yang dipilih oleh sebagian besar musisi dunia. Toko musik online seperti iTunes dan Amazon meroket popularitasnya. Berdasarkan laporan International Federation of the Phonographic Industry (IFPI) pada tahun 2014, musik digital sudah berkontribusi 39% dari penjualan musik di seluruh dunia dengan tren positif. Walaupun sekitar 50% sisanya masih disumbangkan oleh penjualan album fisik, trennya cenderung bergerak ke arah negatif.
Di negara-negara maju di Amerika, Eropa, dan Asia Timur, musik digital cepat diadopsi karena akses internet yang lebih stabil dan mayoritas penduduknya sudah akrab dengan kartu kredit sebagai alat pembayaran transaksi online.
Berbeda halnya dengan negara-negara berkembang di Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa Timur. Musik digital sulit berkembang karena internet masih relatif lambat dan kartu kredit masih jarang digunakan. Ditambah lagi, musuh utama di kawasan ini adalah pembajakan. Masyarakat lebih suka mengunduh musik ilegal karena gratis dan lebih mudah diperoleh.
Keadaan inilah yang coba dijembatani oleh layanan streaming musik. Berbeda dengan iTunes dan Amazon yang mengharuskan pengguna untuk membeli sebuah lagu/album musik, layanan ini menawarkan akses untuk mendengarkan jutaan lagu tanpa batas.
Menariknya, layanan streaming pada umumnya menyediakan versi gratis. Tentu dengan sejumlah batasan, misalnya jumlah pemutaran lagu yang terbatas atau sisipan iklan di sela-sela lagu. Bila ingin menikmati layanan versi premium dengan feature penuh, silakan membayar biaya langganan yang variatif. Artinya, pengguna lebih fleksibel untuk mendengarkan musik yang ia suka. Biaya pun relatif lebih ringan daripada membeli (malah bisa gratis) dan bebas untuk berlangganan kapan saja.
Pada tahun 2014, ada sekitar 450 layanan streaming musik di dunia dengan total sekitar 767 juta pelanggan, 36 juta di antaranya merupakan pelanggan berbayar. IFPI melaporkan, layanan streaming musik mulai menunjukkan indikasi menyalip popularitas pembelian musik digital. Di AS, jumlah pelanggan streaming meningkat dari 19% di tahun 2012 menjadi 23% di 2013, sedangkan jumlah pembeli musik digital turun dari 28% ke 27%. Di Swedia, Perancis, dan Italia, streaming bahkan sudah lebih populer daripada download musik legal.
Generator Research memprediksi, pada tahun 2017, jumlah pelanggan streaming musik akan mencapai 1,7 miliar – meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2013. Jumlah pelanggan berbayar juga naik menjadi 125 juta orang sehingga bisa menghasilkan US$2,9 miliar atau sekitar 16% dari seluruh pemasukan di industri musik.
Melihat laporan ini, muncul anggapan bahwa layanan streaming adalah masa depan dalam mendengarkan musik. Lihat saja, Apple tahun lalu rela mengeluarkan US$3 miliar untuk mengakuisisi Beats Music, produsen headphone yang juga mempunyai layanan streaming. Sementara itu, Amazon telah menyediakan streaming gratis lewat layanan Amazon Prime.
Bagi musisi dan label rekaman pun, streaming diperkirakan bisa menghasilkan pemasukan yang lebih besar daripada download musik, dalam jangka panjang. Layanan streaming juga berpotensi menjangkau lebih banyak pendengar, bahkan sampai jauh di luar negara asal musisi.
Bagaimana dengan di Indonesia? Sejak tahun 2011, cukup banyak pemain yang mencoba memopulerkan musik digital di Indonesia. Sebut saja LangitMusik, MelOn, dan IMport Musik. Akan tetapi, upaya mereka sepertinya belum menghasilkan dampak yang signifikan untuk menyelamatkan industri musik tanah air yang digerogoti masalah pembajakan.
Hingga akhirnya, layanan streaming musik mulai mencoba menembus Indonesia. Dengan kelebihan-kelebihan yang diusungnya, sanggupkah layanan ini mengetuk hati penikmat musik lokal untuk perlahan-lahan meninggalkan musik ilegal dan beralih ke musik digital legal?


Blog, Updated at: Selasa, Maret 10, 2015

3 komentar:

Posting Komentar

Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Facebook  Twitter  Google+
Email Autoresponder
Sistema Enlaces Reciprocos
Diberdayakan oleh Blogger.